Tentang ICHS

Latar belakang

Sistem kesehatan di seluruh dunia saat ini menghadapi tantangan yang kompleks dan saling terkait, termasuk meningkatnya beban penyakit tidak menular, penyakit menular yang muncul dan muncul kembali, ketidaksetaraan kesehatan, transisi demografis, dan dampak jangka panjang dari krisis global. Meskipun telah terjadi kemajuan signifikan dalam memajukan indikator kesehatan global, kesenjangan dalam akses, kualitas, dan hasil layanan kesehatan tetap sangat besar—terutama di antara populasi yang rentan dan terpinggirkan. Ketidaksetaraan ini mengancam pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) Perserikatan Bangsa-Bangsa, khususnya SDG 3 (Kesehatan dan Kesejahteraan yang Baik), serta tujuan-tujuan terkait lainnya yang berhubungan dengan kemiskinan, pendidikan, kesetaraan gender, dan kemitraan.

Dalam beberapa tahun terakhir, inovasi teknologi kesehatan telah muncul sebagai kekuatan transformatif dalam meningkatkan penyampaian layanan kesehatan dan hasil kesehatan masyarakat. Platform kesehatan digital, telemedisin, kecerdasan buatan, perangkat pemantauan kesehatan yang dapat dikenakan, dan analitik big data menawarkan peluang yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk meningkatkan deteksi dini, pencegahan penyakit, kesinambungan perawatan, dan efisiensi sistem kesehatan. Namun, kemajuan teknologi saja tidak dapat menjamin dampak yang adil. Tanpa desain inklusif, tata kelola etis, dan keterlibatan masyarakat, inovasi dapat secara tidak sengaja memperlebar kesenjangan digital dan memperburuk kesenjangan kesehatan.

Di luar dimensi teknologi, religiusitas dan nilai-nilai berbasis kepercayaan memainkan peran penting namun seringkali kurang diakui dalam membentuk perilaku kesehatan, ketahanan masyarakat, dan praktik pencarian kesehatan. Di banyak masyarakat, lembaga keagamaan dan pemimpin agama berperan sebagai aktor tepercaya yang memengaruhi sikap terhadap pencegahan, kepatuhan pengobatan, vaksinasi, dukungan kesehatan mental, dan perawatan akhir hayat. Mengintegrasikan religiusitas ke dalam strategi kesehatan—sambil mempertahankan ketelitian ilmiah dan kepekaan budaya—dapat memperkuat upaya promosi kesehatan, meningkatkan kepercayaan masyarakat, dan mendukung perubahan perilaku yang berkelanjutan. Pendekatan ini selaras dengan model perawatan kesehatan yang responsif secara budaya dan prinsip "tidak meninggalkan siapa pun di belakang" yang tertanam dalam kerangka SDGs.

Lebih lanjut, memajukan kesetaraan dan keberlanjutan kesehatan membutuhkan kolaborasi multisektoral yang kuat. Hasil kesehatan tidak hanya ditentukan oleh sistem perawatan kesehatan, tetapi juga dibentuk oleh determinan sosial termasuk pendidikan, lingkungan, stabilitas ekonomi, perencanaan kota, dan perlindungan sosial. Kemitraan yang efektif antara lembaga pemerintah, lembaga akademik, sektor swasta, organisasi masyarakat sipil, organisasi berbasis agama, dan pemangku kepentingan internasional sangat penting untuk mengatasi determinan ini secara holistik. SDG 17 (Kemitraan untuk Tujuan) menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dalam mencapai pembangunan berkelanjutan.

Dengan menyadari dimensi yang saling terkait ini, Konferensi Internasional tentang Ilmu Kesehatan bertujuan untuk menyediakan platform global bagi para cendekiawan, praktisi, pembuat kebijakan, pemimpin agama, ahli teknologi, dan mitra pembangunan untuk terlibat dalam dialog interdisipliner dan pertukaran pengetahuan. Dengan tema “Inovasi Teknologi Kesehatan, Religiusitas, dan Kolaborasi Multisektoral: Memajukan Kesetaraan dan Keberlanjutan Kesehatan menuju SDG,” konferensi ini berupaya untuk mengeksplorasi pendekatan integratif yang menggabungkan inovasi ilmiah, nilai-nilai etika, dan tata kelola kolaboratif dalam memperkuat sistem kesehatan yang tangguh dan inklusif.